
19 Juni 2010 lalu, seorang teman saya menikah di Bandung. Kalau dilihat jaraknya dari Jakarta, Bandung bisa dibilang tidak jauh, tapi juga tidak bisa dibilang dekat. Relatif lah. Tapi karena saya dan si calon mempelai perempuan pernah mengenyam pendidikan di kantor yang sama, saya dan beberapa teman kantor memutuskan datang ke pesta pernikahan itu.
Nah, karena pernikahannya hari Sabtu, beberapa hari sebelumnya saya dan beberapa teman coba bernegosiasi dengan bagian umum kantor untuk meminjam mobil. Sebetulnya sih teman saya ada yang bisa menyediakan mobil, tapi ukurannya yang kecil hanya bisa menampung empat orang. Sedangkan yang mau datang ke pernikahan itu ada enam orang. Read the rest of this entry »

Kunjungan saya ke Yogyakarta awal Agustus lalu sangat tidak terencana. Awalnya, saya ke sana untuk menemani Zam yang ada agenda rapat di daerah Palagan, dengan partner kantornya. Saya berangkat ke sana dengan mobil kantor Zam bersama empat laki-laki selain Zam. Mereka adalah Mas Marwan yang berperan sebagai supir, Dipto, Judotens, dan Ndaru.
Kami start dari Jalan Langsat, Kebayoran Baru sekitar pukul 21.30 WIB, Jumat (6/8). Kalau lancar, tidak pakai macet, perjalanan diprediksi sekitar 10-11 jam. Karena kecepatan mobil sampai 100 km/jam. Sayangnya, baru masuk ke Jalan Sudirman saja, sudah macet banget. Dari Bunderan Senayan sampai Jembatan Semanggi, waktu yang dibutuhkan sekitar setengah jam. Belum lagi macet dari Gatot Subroto hingga Cawang. Read the rest of this entry »

Dari kecil, saya suka main. Tapi saya tidak suka main yang dekat dengan rumah, biasanya main ke rumah teman yang letaknya jauh dari komplek tempat saya tinggal. Kebiasaan main jauh itu terus terbawa sampai sekarang. Sampai sekarang, paling dekat saya main ke Curug Cilember, Bogor, dan paling jauh ke Guilin, Cina Selatan.
Nah, karena sejak kecil orang tua saya tidak pernah menggunakan jasa agen tur saat mengajak anak-anaknya jalan-jalan, saya juga tidak terbiasa menggunakan agen serupa. Lagi pula, selama ini saya selalu berpikir, biaya perjalanan dengan menggunakan jasa agen itu jauh lebih mahal dari pada jalan-jalan yang menggunakan usaha sendiri. Read the rest of this entry »

Tidak selamanya minta teh dikasih teh.
Sejak lahir, sampai saat saya menulis di sini, saya baru mengunjungi tiga negara. Singapura, Malaysia, dan Cina, tepatnya di Guilin, Provinsi Guangxi, Cina Selatan. Saat mendatangi negara-negara itu, pasti saja ada kendala bahasa. Terutama saat di Guilin.
Kendala bahasa yang kami hadapi biasanya saat kami akan memesan makanan. Contohnya waktu saya mendatangi rumah makan halal di Guilin. Di sini, mau pesan apa pun, bisa..karena semua menunya halal. Kita tinggal tunjuk gambar, makanan pun datang. Read the rest of this entry »

Selama di Guilin, Guanxi, Cina Selatan, selain susah menncari orang yang bisa berbahasa inggris, kami juga kesusahan menncari makanan yang halal. Hampir seluruh tempat makan menyajikan daging babi. Bahkan di gang menuju hostel pertama yang kami inapi, penuh penjual cemilan babi.
Sangking banyaknya penjual makanan berbahan baku daging babi, aroma babi sampai menyelimuti kota itu. Bahkan saya sering harus menahan diri supaya nggak muntah saat mencium aroma itu. Read the rest of this entry »

Cinaaaaaaaa….!!!
Teriak saya dengan suara agak tertahan, saat saya memasuki ruang kedatangan Airport Guilin. Saya norak ya…biarinlah, toh saya ingin mengungkap rasa senang karena bisa menginjakan kaki di negara Cina.
Ya…alhamdulillah saya mendapat kesempatan main ke Cina. Tolong digarisbawahi ya..main ke Cina. Jadi bukan dalam rangka kerja atau utusan negara. Tapi untuk menjelajah Kota Guilin, Kabupaten Guangxi, Cina Selatan *norak pangkat sepuluh*.
Sebetulnya, dibanding rasa semangat, saya lebih merasa deg-degan. Iyalah..wong saya nggak bisa bahasa Cina. Padahal menurut banyak orang, di Cina tidak banyak yang bisa berbahasa inggris. Tapi, sok pe-de lah..buktinya
Read the rest of this entry »
Ternyata saya tidak berbakat membuat rencana, atau mungkin saya ditakdirkan untuk selalu dadakan.
Semua ini berawal dari tiga bulan lalu, saat teman seperjalanan saya, matriphe, mendapat tawaran tiga voucher tiket AirAsia dengan tujuan London, Thailand, dan Guilin, Cina Selatan. Setiap voucher, berisi dua tiket.
Tapi kami tidak bisa mengambil semua voucher itu, harus pilih satu. Tadinya mau ambil voucher London, tapi berdasar masukan teman-teman yang sudah pernah ke sana, kami urung ambil London. Biaya hidup di sana mahal boo…
Read the rest of this entry »

Meski muka ngantuk, tetep foto :D
Selasa, 13 Juli 2010. 14.00 WIB
Trrrrt..trrrrt… *ponselku bergetar, nomor kantor yang terlihat di layar*
Saya: Hallo
Redaktur: Nil, apa kabarnya. Sehat?
*suara mbak redaktur*
Saya: Sehat mbak, kenapa?
*wajar dia tanya kabarku, karena dalam sebulan aku hanya kekantor tiga kali. Saat jadwal piket saja :
*
Redaktur: Besok kamu ke luar kota ya, ke Ternate. Bisa?
Read the rest of this entry »

Ketemu panda di Chinese Visa Application Service Center, Mega Kuningan.
Ada dua tempat yang cukup saya takutkan saat akan atau sedang bepergian ke luar negeri. Tempat pertama adalah bagian imigrasi. Kenapa? Selain sering mendengar cerita teman-teman yang pernah tertahan di imigrasi karena mempunyai nama muslim, atau wajah Asia, atau dianggap tidak cukup kaya untuk masuk ke negara itu, saya juga punya pengalaman yang cukup mendebarkan saat di imigrasi.
Read the rest of this entry »
Ini cerita tentang perjalanan saya ke ujung Genteng, Sukabumi, akhir 2008 lalu. Perjalanan pertama saya yang juga awal perjalanan untuk perjalanan-perjalanan selanjutnya. (Banyak banget ya kata perjalanannya).
Read the rest of this entry »